"pendekatan psiko-socio culture merupakan prasyarat memahami perilaku masyarakat dan membangun kesadaran bersama untuk mengelola kawasan konservasi yang lebih manusiawi"

15 Desember 2014

Media Semai Cetak (MSC): Alternatif Pembibitan Rakyat Berkarakter Indonesia

Oleh: Idi Bantara*)

Latar Belakang

Inovasi teknologi pembibitan tanaman terus berkembang dari waktu ke waktu, selaras dengan dinamika kebutuhan pengguna bibit dan variasi sasaran lokasi kegiatan penanaman.   Inovasi yang sangat berkembang tersebut diantaranya adalah teknologi perbanyakan bibit, teknologi media tanam semai dan bibit, teknologi pemupukan organik dan unorganik, teknologi sarana persemaian dan lainya.  Masing-masing teknologi berguna sesuai karakter masing-masing lokasi penanaman. Hal itu dikarenakan tidak semua teknologi tepat di semua lokasi, misalkan teknologi hidroponik akan berkembang cepat di daerah perkotaan, tetapi sulit berkembang di daerah pedesaaan dan lainnya. Maka teknologi pembibitan memiliki variasi inovasi yang sangat dinamis, ketepatan menganalisa kebutuhan sumber daya alam dan karakter sosial tenaga kerja menjadi pertimbangan dalam mengembangkanya.

Pergerakan inovasi dan kreatifitas pembibitan tanaman di tanah air, awalnya banyak dilaksanakan oleh unit teknis pemerintah. Namun seiring perkembangan waktu, banyak lembaga-lembaga swasta, masyarakat serta perseorangan telah mampu dan banyak menghasilkan teknologi pembibitan dengan respon yang tinggi dari penggunanya; bahkan inovasinya mampu menggerakan kewirausahaan yang sangat pesat. Inovasi tersebut diantaranya pembuatan bibit kultur jaringan, jati okulasi, durian kaki tiga, sengon solomon, sarana persemaian, perbenihan, investasi pohon dan lainnya. Dan ke depannya, teknologi pembibitan dipastikan akan selalu berkembang di tanah air, termasuk pembibitan tanaman hutan.
Pembibitan tanaman hutan berkembang di saat kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan digerakkan dalam rangka memperbaiki fungsi lingkungan di wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS).  Kegitan tersebut sejak pencanangan tahun 1981 oleh pemerintah, dikenal melalui Program Penghijauan, dan terus dilaksanakan hingga sekarang seperti One Billion Indonesian Trees (OBIT) dan kegiatan partisipasi masyarakat lainya.
Guna mendukung keberhasilan kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan, maka kebutuhan bibit berkualitas sesuai jumlah dan waktunya sangatlah diperlukan. Untuk maksud tersebut, pengetahuan dan inovasi teknologi pembibitan yang tepat, praktis dan efisien sangat diperlukan;  yaitu teknologi yang efisien, dapat menyesuaikan karakter biofisik, sosial, dan kebijakan pemerintah, serta teknologi yang mendorong tanaman tumbuh subur. 
Salah satu teknologi multiguna pembibitan tanaman hutan yang perlu dikenalkan adalah alat pembuatan media praktis tanpa wadah/ kantong plastik. Alat tersebut dikenalkan dengan nama “Media Semai Cetak”, atau dipopulerkan dengan sebutan MSC. 

Mengenal MSC

MSC adalah alat yang digunakan untuk pembuatan media tanam dalam bentuk cetakan. Tujuan awal teknologi ini adalah untuk menjawab permasalahan tenaga kerja lokal tanpa ketrampilan, khususnya tenaga untuk pengelolaan Persemaian Permanen, Kebun Bibit Rakyat (KBR), dan pembibitan di pedesaan lainya. MSC dengan mudah menghasilkan media semai atau media bibit tanam, lebih praktis dan efisien. Alat ini juga terbukti telah mampu membantu pengelola persemaian permanen, karena dengan alat MSC ini permasalahan pengelolaan persemaian dalam tenaga kerja lokal menjadi teratasi. Sampai saat ini MSC telah digunakan sebagai alat penting sistim produksi bibit di Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Way Seputih Way Sekampung. Karena keunikan alat sederhana ini, banyak pihak yang datang untuk mempelajari, dan menggunakan alat ini untuk memproduksi bibit tanaman holtikultura.

Keunggulan dan Kelemahan Media Semai Cetak


Catatan Inovasi
1.  Efektifitas - Secara empiris, dengan satu alat dapat mencetak media semai/ kecambah, juga untuk bibit siap tanam lapangan, selain bibit tanaman hutan juga untuk bibit holtikultura, dan pupuk tablet.
2. Efisiensi - Media ringan,  900 batang/m2, mampu membawa 6 -10 kali dibanding polybag. 
3. Kepraktisan - Tanpa perlu proses belajar yang rumit. Bersifat tepat guna dan diprediksi menjadi alternatif pembibitan dan penanaman RHL di Indonesia.

Cara Pemesanan
Bagi masyarakat yang berkeinginan mendapatkan alat MSC tersebut, dapat menghubungi Idi Bantara, No HP 08121524180; Email: ini_persemaian@yahoo.co.id. Saat ini, untuk mendapatkan alat MSC tersebut, pembeli perlu menyiapkan biaya sebesar Rp.3.000.000,- (tiga juta rupiah).

Catatan Direktur Bina Perhutanan Sosial
Idi Bantara menempuh pendidikan D4 Budidaya Hutan di IPB (2001), S2 Perencanaan DAS dan Pesisir, Fak.Geografi UGM (2008). Ia penerima Penghargaan Inovasi Bidang BPDASPS dari  Dirjen Bina Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Perhutaan Sosial (BDAS PS), SK Nomor 49/V-Set/2014, tanggal 25 Juni 2014.***

*)Kepala Seksi Kelembagaan, BPDAS Way Seputih Way Sekampung

1 komentar: