"pendekatan psiko-socio culture merupakan prasyarat memahami perilaku masyarakat dan membangun kesadaran bersama untuk mengelola kawasan konservasi yang lebih manusiawi"

28 Februari 2012

Analisis Bab 4 Buku Berkaca di Cermin retak (Perubahan Tata Guna Lahan dan Fragmentasi Habitat) *

Dari segala permasalahan yang berkaitan dengan adanya deforestasi adalah kepunahan keanekaragaman hayati. Berbagai faktor terutama keberadaan aktivitas manusia mengakibatkan perubahan terhadap suatu kawasan, pertumbuhan jumlah populasi manusia yang sangat tinggi mengakibatkan banyak terjadi perubahan fungsi lahan dari kawasan hutan menjadi kawasan non hutan (perumahan, pertanian, perkebunan, pertambangan, dll). Kondisi ini lah yang mengakibatkan hilangnya kawasan hutan yang menjadi tempat hidup satwa liar menjadi hilang atau terpecah-pecah.

Satwa liar hidup di suatu habitat beradapatasi terhadap lingkungan baik lingkungan fisik dan non fisik hayati (tumbuhan dan satwa liar lainnya) . Satwa liar merupakan salah satu komponen dalam suatu ekosistem yang sangat dipengaruh oleh kondisi habitat. Dengan adanya berbagai gangguan terhadap suatu habitat, dapat dipastikan pula terjadi gangguan dalam ekosistem tersebut. Kehilangan salah satu komponen habitat dapat mengakibatkan suatu satwa liar punah, sebagai contoh: dalam kawasan karst terdapat gua-gua yang dihuni oleh kelelawar pemakan buah mengalami gangguan penambangan batu kapur sehingga mengakibatkan semakin jarangnya jenis kelelawar tersebut. Sebagai dampaknya mengakibatkan beberapa proses pembuahan tanaman yang memerlukan bantuan kelelawar menjadi terhambat, sehingga beberapa satwa liar mengalami kekurangan pakan, hal ini menjadi penyebab terganggunya jarring-jaring makan bahkan mengakibatkan satwa liar yang rentan terhadap gangguan mengalami penurunan populasi secara drastis bahkan terancam kepunahan. Ketidakseimbangan tersebut merupakan sebagian kecil saja dari adanya gangguan terhadap habitat (kawasan hutan).

Berkaitan dengan fragmentasi habitat, di Indonesia terdapat banyak kawasan konservasi. dalam kawasan konservasi ini keberadaan keanekaragaman hayati relative lebih terlindungi. Luas dan jumlah habitat berpengaruh terhadap kondisi kelestarian keanekaragaman hayati. Berdasarkan teori biogeografi pulau habitat yang bagus adalah areal yang luas (single large). Kawasan Konservasi di Indonesia tersebar dalam bentuk, ukuran dan status yang berbeda- beda dengan key species yang berbeda-beda. Kawasan yang terdiri dari several small, memerlukan koridor agar kawasan satu dengan yang lainnya. Kondisi habitat Komodo di dataran flores dapat di pastikan dalam kondisi terfragmentasi.

Di Provinsi NTT, kawasan konservasi yang merupakan habitat satwa ini hanya kawasan CA Wae Wuul yang berada di ujung barat pulau flores terpisah jauh dengan CA Riung, CA Wolo Tadho, dan TWAL 17 Pulau Riung yang berada pada bagian utara pulau flores. Pada Kawasan Konservasi di Bagian utara flores masih memungkinkan adanya koridor satwa untuk menghubungkan habitat-habitat untuk komodo tersebut. Pada populasi kecil yang terisolasi akan memiliki tingkat ancaman kepunahan yang tinggi. Pada populasi kecil rawan terjadi inbreeding, untuk satwa komodo yang merupakan satwa soliter dengan wilayah jelajah yang luas serta kondisi populasi kecil sangat juga mengakibatkan sulit terjadinya perkawinan. Ancaman lainnya adalah ketersediaan pakan, berkurangnya populasi satwa mangsa komodo seperti rusa. Selain kondisi habitat dan populasi kecil Komodo juga mengalami tekanan dari masyarakat, komodo sering diburu karena dianggap sebagai hama yang mencuri ternak penduduk.

Setiap spesies satwa liar memiliki home range yang berbeda-beda, Satwa-satwa tersebut mungkin memiliki home range di dalam dan luar kawasan hutan, adanya gajah yang memasuki areal ladang masyarakat merupakan salah satu indicakor bahwa home range gajah juga di luar kawasan taman nasional. Berapa jumlah satwa atau kelompok satwa yang dapat tertampung oleh habitat tersebut. Perlu diperhatikan juga mengenai tempat mencari pakan suatu spesies, beberapa species bergerak ke habitat yang berbeda untuk mendapatkan pakannya. Pada spesies dengan perilaku seperti itu perlu diperhatikan kondisi habitat tempat mencari pakan harus dapat menyediakan pakan bagi species tersebut. Habitat yang terfragmentasi apakah dapat memenuhi kebutuhan hidup dari suatu satwa liar? Daya dukung dalam suatu habitat sangat menentukan keberlangsungan suatu satwa liar, erat kaitanya dengan dinamika populasi. Kondisi fragmentasi habitat agar satwa liar yang hidup di dalam agar tidak punah memerlukan pengelolaan satwa liar yang baik.


*Oleh: Marliana Chrismiawati (Calon PEH, Balai Besar KSDA NTT)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar