"pendekatan psiko-socio culture merupakan prasyarat memahami perilaku masyarakat dan membangun kesadaran bersama untuk mengelola kawasan konservasi yang lebih manusiawi"

15 September 2016

Pengelolaan Kolaboratif Sumberdaya Alam Sebagai Alternatif Pencegahan dan Resolusi Konflik

A.   Latar Belakang
Menurut data dari BPS dan Kementerian Kehutanan tahun 2007 dan 2008, sebanyak 25.863 desa berada di dalam dan di sekitar kawasan hutan Negara (Kemitraan, 2015). Pada umumnya, masyarakat desa hutan ini kondisi sosial ekonominya sangat bergantung pada sumberdaya hutan. Menurut Prof. Didik Suharjito (2014), jumlah penduduk miskin yang bertempat tinggal di desa hutan sekitar 12 juta jiwa atau 32,4% dari penduduk pedesaan sekitar hutan, atau 66,3% dari penduduk yang tergolong miskin. Nampaknya hutan-kemiskinan berkorelasi langsung. Dan ini menjadi salah satu sumber konflik.

Pasca reformasi 1998, konflik tenurial di sekitar kawasan hutan semakin meningkat dan semakin kompleks.  S Rahma Mary H (Huma) dan Noer Fauzi Rachman (Fakultas Ekologi Manusia - IPB; saat ini bekerja di Kantor Staf Presiden) dalam artikelnya berjudul: “Mesuji, Cermin Konflik Agraria yang Kronis” (Media Indonesia, 26 Desember 2011) menguraikan berbagai persoalan konflik agraria antara masyarakat dan pengusaha, yang cenderung direspon represif oleh aparat negara da perusahaan.

Kedua penulis mengungkap bukti-bukti bahwa selama 10 tahun terkahir terjadi 108 konflik agraria di 10 provinsi yang didominasi konflik tenurial di kawasan hutan (69 kasus), dan konflik perkebunan (23 kasus); BPN mencatat 8.000 konflik agraria. Sawit Watch mencatat konflik tanah di perkebunan kelapa sawit mencapai 663. Konflik agraria ini melibatkan perusahaan perkebunan swasta dan BUMN, perusahaan pertambangan, taman nasional, dan Perhutani.

25 Januari 2016

Perhutanan Sosial dan Politik Keberpihakan : Kebijakan Provinsi Sumatera Barat Bisa Menjadi Contoh


Latar Belakang
Definisi tentang “hutan” sudah seharusnya dirubah total. Definisi  “hutan” sebagaimana tercantum dalam UU No.41/1999 tentang Kehutanan dan dalam berbagai literatur, yang menyatakan “hutan” hanya sekumpulan pohon-pohon, menjadikan banyak kebijakan nasional yang misleading. Ini pandangan konvensional yang akhirnya memang hutan dieksploitasi kayunya. 35 tahun kemudian, hutan-hutan produksi di Indonesia lenyap dan hanya menyisakan 30-40 juta hektar kawasan open access. Sesungguhnya hutan di Indonesia dan bahkan di berbagai negara lainnya, bukan hanya sekedar “kertas putih”.

Prof San Afri Awang, dalam pengukuhannya sebagai Guru Besar Perhutanan Sosial (Social Forestry)-UGM  ternyata sejalan dengan pandangan bahwa hutan bukan “kertas putih”. Hutan bukan sekedar kumpulan flora dan fauna. Ontologi (hakekat ilmu hutan/ kehutanan) atau OH konvensional sebagai fungsi flora, fauna dan ekosistem atau OH = f (flora, fauna, ekosistem). Ontologi pengetahuan kehutanan ini dibentuk dan dikonstruksikan oleh asupan substansi yang terkait dengan flora, fauna, dan ekosistemnya saja. Selanjutnya dinyatakan bahwa pengertian hutan (forest) sebagai satu ekosistem yang ditandai oleh tutupan pohon padat atau kurang padat dan menempati areal yang luas, sering terdiri dari tegakan yang variatif di dalam karakternya seperti komposisi jenis, struktur, kelas umur, dan secara bersama-sama berasosiasi dengan padang rumput, sungai, ikan, dan hewan-hewan liar (Helms, 1998 dalam Awang, 2013). 

04 November 2015

Co management and Livelihood: Challenges and Opportunities


“Forestry is not about trees, it is about people. And it is about trees only insofar as trees can serve the needs of people”
(Westoby, 1967).

Overview
It is important to have common understanding that forest is not only trees or habitat of wildlife. In Indonesia, or mostly in Asia, Africa, and Latin America, if we talk about forest as an ecosystem or landscape, we have to include  communities living inside or nearby forest area or event for those who live far away but their livelihood, their food, health, and quality of life depend upon forest resources and its environmental services. Timber, water supply for consumption, agriculture, and estate, water balance, micro climate; prevention from erosion, landslide, the role of pollination processes, non timber forest products such as rattan, honey, medicinal plants, materials for roof, clothing, housing, canoes, ropes; river system in the forest are part of important transportation system, and so on. More than 2.4 billion people or 40 percent of people live in less developed countries still used firewood for cooking (State of the World’s Forest 2014).

04 September 2015

Putting 'Spirit' into Your Work

Apakah kita mampu menanamkan “spirit” pada setiap pekerjaan kita? Mengapa penting kita memberikan “spirit” pada pekerjaan kita? Kita seringkali merasakan bedanya pekerjaan yang dilakukan oleh staf dengan serius, penuh semangat, atau dikerjakan hanya untuk memenuhi tugas atau perintah atasan. Dikerjakan sesuai dengan “arahan” dari atasannya - tidak kurang dan tidak lebih.

Demikian pula ketika harus melakukan pekerjaan yang langsung di lapangan. Apakah itu ke hutan, menemui masyarakat, melakukan kegiatan di lapangan bersama dengan masyarakat, menghadapi masalah yang terjadi, menyiapkan laporan hasil kerjanya. Semua itu sebenarnya memerlukan proses pengamatan langsung, pemahaman, pemaknaan, interpretasi. Mencari tahu, “pesan” apa kira-kira yang disampaikan oleh “Yang Punya Kehidupan” kepada kita dengan hasil temuan atau dengan semua hal yang muncul ketika berkunjung dan mendalami persoalan tersebut. Banyak hal ternyata tidak cukup dijelaskan melalui laporan tertulis, kalau kita hanya menuliskan apa yang nampak atau seolah-olah muncul  yang tertangkap oleh panca indera kita. Mungkin juga karena di lapangan, banyak sekali “frekuensi” yang tidak bisa atau tidak mampu kita tangkap. “Frekuensi” kebenaran, “frekuensi” penanda penyebab terjadinya sesuatu, “frekuensi” yang menjadi jawaban dari persoalan yang mengemuka, dan masih banyak “frekuensi” lainnya, bertebaran yang juga akan membuat kita kebingunan atau terjebak pada interpretasi yang salah tentang apa yang sebenarnya terjadi.