"pendekatan psiko-socio culture merupakan prasyarat memahami perilaku masyarakat dan membangun kesadaran bersama untuk mengelola kawasan konservasi yang lebih manusiawi"

15 Juni 2012

Dua Minggu yang Tak Terlupakan (Catatan Perjalanan Flying Team ke Taman Wisata Alam Laut 17 Pulau Riung)


Ditulis oleh: Aminah*


Flying team bahasa keren dari sebuah tim yang telah dibekali keahlian khusus dan diterbangkan atau didatangkan ke resort untuk melakukan transfer informasi dan melakukan pembelajaran secara bersama-sama dengan staf di lapangan dan masyarakat serta berbagai stakeholder yang terkait dalam melakukan pemotretan kondisi kawasan dengan alat berupa tally sheet. Pemotretan kondisi kawasan dilakukan secara keseluruhan dengan cara  pengamatan langsung maupun  dengan menggali informasi dari wawancara bersama dengan tokoh setempat.

Gambaran ini yang terekam di pikiran pertama kali ketika diminta untuk melaksanakan tugas sebagai flying team bersama dengan Mas Yosi (Isai Yusidarta) ke Taman Wisata Alam Laut (TWAL) 17 Pulau Riung. Selain perasaan senang karena sesuatu yang sangat jarang bisa melihat langsung lapangan. Keseharian lebih banyak berkutat dengan administrasi kantor.

Waktu persiapan sangat singkat dan terbatas sehingga tim kami berdiskusi singkat mengenai apa yang akan dilakukan di lapangan. Kami menyoroti pengamanan kawasan perairan berkaitan dengan riwayat kasus yang pernah terjadi di TWAL 17 Pulau Riung. Maka Mas Yosi menyusun Rencana Pelaksanaan Kegiatan (RPK). Kami juga membekali diri dengan kamera, beberapa lembar tally sheet, peta kawasan dan GPS hasil pinjaman dari seorang teman di BPKH XVI (terima kasih Dede).  Tim kami sangat suka dengan keindahan bawah laut jadi tak ketinggalan membawa peralatan snorkeling.

Selasa 22 Mei 2012 pukul 11.00 dengan menggunakan pesawat Transnusa berangkatlah flying team ini dari BAndara El Tari Kupang menuju Bandara H. Hasan Aroeboesman Ende.

Amazing…! Itu kata-kata yang pertama dilontarkan ketika pesawat akan mendarat dan terbang disisi sisi perbukitan hijau. Bukitnya menjulang rapi membentuk seperti tumpeng besar (mungkin karena belum sarapan tadi pagi ^-^).

Pesawat mendarat dengan selamat dan sesi pemotretan pun dimulai. Ketika memasuki pintu bandara disambut dengan petugas yang sangat ramah dan bersahabat. Dengan sukarela melayani kami dengan sabar dan mencarikan travel untuk kami. Tak ketinggalan petugas dinas perhubungan itu memberikan nomor HP yang siap dihubungi kapan saja apabila mendapat kesulitan diperjalanan nanti menuju Riung. Sungguh pengabdian yang total. Terima kasih Pak Aliasa Abbas dan teman-teman.

Inova sewaan dengan plat nomor yang cantik  EB-9999-AA melaju dengan santai menjadi terasa sangat nyaman dengan dipandu guide berpengalaman yang sekaligus menjadi driver kami. Kami mampir di Masakan Padang Tiga Roda untuk mempersiapkan bahan bakar menuju Riung. Sang guide mengajak sedikit berkeliling kota Ende dan mampir di Situs Rumah Bung Karno. Setelah berfoto sebentar perjalanan pun dimulai. Mobil kami melaju santai menuju Riung.

Kami menyusuri jalan Trans Flores di sisi kiri hamparan lautan dan sisi kanan menjulang pegunungan. Pemandangan yang luar biasa ini sayang rasanya untuk dilewatkan dengan tidur. Sesekali kami berhenti di titik-titik pemandangan untuk mengambil foto. Kami melewati Bukit Es Krim, batu hijau dengan sebuah pelabuhan dan bukit padang rumput yang lembut.

Tiba di kota Mbai kondisi sudah gelap dengan langit ditutupi ribuan bintang yang nampak lebih terang. Mobil terus melaju tanpa henti dengan tetap penuh kehati-hatian. Tiba di satu tempat, mobil tiba-tiba berhenti dan memadamkan lampunya. Sang guide terdiam beberapa menit baru kemudian perjalanan dilanjutkan. Ternyata tempat itu adalah pintu gerbang memasuki Riung tepatnya di gerbang memasuki Cagar Alam Wolo Tadho. Disebut gerbang karena jalan diapit oleh dua buah pohon Ficus yang besar dengan diameter sekitar semeter. Kebiasaan itu dilakukan karena menurut sang guide ada makhluk lain yang lewat tadi di situ juga. Sedikit merinding mendengar gambaran Riung di awal tugas. Namun ketakutan itu memudar setelah kembali menikmati suasana malam yang begitu indah dengan wangi rumput, suara angin dan cantiknya bintang-bintang menerangi jalan walaupun tanpa lampu jalan.

Tidak terlalu sulit menemukan rumah salah seorang staf di lapangan ketika disebutkan alamatnya dekat Rumah Dinas Camat Riung. Kami tiba sekitar pukul 10.00 WITA malam. Disambut Pak Nicodemus Manu dan Ibu yang telah menyiapkan kamar dirumahnya untuk kami tinggal bersama. Pak Nicodemus Manu adalah salah seorang staf di resort dan merupakan tokoh masyarakat yang cukup dikenal. Ami pertama kali datang kesini, sedangkan Mas Yosi ini yang kali keduanya ke Riung jadi sudah cukup mengenal. Beberapa saat kemudian Pak Siprianus Janggur pejabat sementara Kepala Resort TWAL 17 Pulau Riung, CA Wolo Tadho dan CA Riung datang. Setelah berkenalan dan berbincang ringan mengenai flying team dan kegiatan besok kami pun beristirahat.

Rabu, 23 Mei 2012. Suasana baru terasa sedikit berbeda ketika bangun dipagi hari suasana gulita. Ternyata listrik 66 yaitu hanya menyala pukul 6.00 WITA sore sampai pukul 6.00 WITA pagi. Tim mulai bergerak menyusuri jalan menuju pelabuhan-pelabuhan terdekat. Mengejar pagi di waktu-waktu nelayan mulai mendarat. Pelabuhan pertama yang didatangi adalah Dermaga Jeti Perikanan di Golo Ite.

Sungguh menakjubkan. Pemandangan yang luar biasa indah di waktu pertama membuka mata. Tak terbayangkan sebelumnya ada tempat nan cantik ditengah pedalaman Flores mengingat jalan yang telah kami tempuh. Kelelahan dan keraguan selama perjalanan kemarin terbayar dengan puncak keindahan di Riung. Kami menjumpai seorang nenek duduk sambil mengasuh cucunya menanti sang anak kembali dari laut. Satu persatu kapal bagang nelayan pun mendarat. Kami mencoba bersatu dengan suasana pagi yang ceria ini. Mengobrol dengan beberapa nelayan mengenai keseharian mereka, kebiasaan mereka melaut dan menangkap ikan, lokasi memancing sampai pemasaran.

Kami juga melihat kondisi hasil tangkapan berupa ikan-ikan kecil lurik dan tembang yang sangat bersih setelah dijemur dijaring-jaring bagang setelah mereka tangkap. Hasil pancingan beberapa ikan yang lebih besar dengan jumlah yang sedikit sekitar 10 ekor. Mereka memancing dan menangkap menggunakan jaring. Masih menggunakan cara-cara tradisional dan untuk memenuhi kebutuhan di Riung saja. Sehingga belum ancaman bagi kelestarian ikan di TWAL 17 pulau Riung. Bagang yang digunakan adalah bagang apung sehingga tidak merusak karang. Kami memandu teman-teman di resort mengambil titik koordinat dan mengisi tally sheet serta mengambil beberapa gambar. Pelabuhan yang dibangun sudah menggunakan beton sehingga cukup leluasa tempat berlabuh kapal-kapal bagang.

Belum puas rasanya menikmati sunrise di pelabuhan ini dengan pemandangan depan laut yang dikelilingi pulau-pulau dan di arah belakang perbukitan yang hijau. Kondisinya bersih dan jauh dari kotor apalagi kumuh. Di sepanjang pesisir dilapisi mangrove yang masih baik. Nelayan-nelayan yang sangat ramah dan terbuka. Ketika kami lontarkan keinginan untuk ikut memancing bersama bagang apung, mereka menyambut dengan antusias. Dan seperti tak sabar agar kami ikut bersama mereka. Sungguh suasana yang hangat dan lupa segala kepenatan di belakang meja selama ini. Kamipun dibekali beberapa ikan hasil pancingan mereka. Hmm yummy untuk santap siang nanti.

Jalan pulang kami singgah dipelabuhan belakang rumah Pak Nico yaitu pelabuhan milik rakyat. Kondisinya tidak ada pengerasan langsung diantara lorong mangrove yang terbuka, namanya pelabuhan Nanga Mengge. Disini tempat kapal motor milik BBKSDA NTT ditambatkan yang biasa digunakan untuk patroli kawasan TWAL 17 Pulau Riung. Kami menjumpai beberapa nelayan pulang memancing menggunakan perahu motor. Beberapa anak bermain diatas perahu. Berdiri diantara mangrove menyatu dengan alam bercengkerama dengan para nelayan sungguh asyik. Kami menggali beberapa informasi mengenai lokasi dan cara mereka menangkap ikan. Masih dengan cara-cara tradisional yang aman. Kegiatan sudah mulai terbiasa kami melakukan pencatatan di tally sheet memfoto dan mengambil titik koordinat.

Kami berhasil membawa pulang beberapa hasil pancingan mereka. Dirasa cukup bekal untuk pagi ini. Kami berempat, flying team ditemani Pak Nico dan Pak Sipri, beranjak pulang untuk mandi dan sarapan pagi di rumah Pak Nico. Perjalanan pagi yang meninggalkan beberapa catatan dibenak bahwa masyarakat setempat terutama nelayan masih menggunakan cara tradisional yang ramah lingkungan tidak cukup membahayakan kelestarian alam. Sifat mereka yang terbuka bahkan sangat perlu dan membuka peluang untuk dirangkul bersama-sama menjaga kawasan TWAL 17 Pulau ini.

Tak sabar rasanya berdiam lama-lama di rumah. Setelah selesai sarapan kami melanjutkan pemotretan kawasan dengan mendatangi dermaga wisata Nanga Mese. Pelabuhan ini dibangun oleh Pemerintah Daerah untuk sandar kapal wisata milik masyarakat. Ada beberapa kios ditempat parkiran yang menyewakan pelampung dan menjual beberapa makanan ringan. Ada jalan setapak disebelah kiri dermaga yang membelah kawasan mangrove. Suasana di jalan itu begitu tenang diiringi kicau burung.

Kami bertemu dengan staf lapangan yang berjaga di loket yaitu Pak Sipri Meo. Mengobrol dan menggali informasi mengenai wisatawan dan kondisi masyarakat. Duduk dengan beberapa warga di situ mengisi tally sheet dan mendengar keluhan mereka. Kami juga berjumpa dengan beberapa wisatawan asing dan ranger yang menjadi pemandu mereka. Mencoba mencatat informasi yang mereka sampaikan.

Bakar ikan, pisang dan ubi bakar ditemani ikan segar yang dibakar di Pulau Rutong.
Kemudian kami kembali ke kantor resort untuk berkoordinasi dengan teman-teman sekaligus mendengarkan permasalahan dan kondisi saat ini di lapangan. Hari pertama ini kami mencoba berkoordinasi dengan Camat tetapi sedang ada rapat di luar. Baru pada hari kedua kami bisa bertemu dengan Camat dan beberapa tokoh masyarakat pada acara jamuan bersama. Kami disambut dengan rebus pisang dan bakar ikan yang diasinkan nikmat sekali rasanya. Ditambah minuman tradisional berupa air nira. Kami juga mendatangi seluruh kantor desa dan kelurahan di Riung untuk memperoleh data dan mengenal mereka.

Selama tinggal di lapangan Kami mendatangi semua pelabuhan yang terletak sepanjang kawasan TWAL 17 Pulau Riung. Dengan pemandangan khas setiap pelabuhan berbeda-beda. Seperti pelabuhan Nanga Ular yang cantik. Di muara yang dipenuhi mangrove dan sedikit di tepi bukit. Dari sana terhampar pemandangan TWAL 17 pulau yang cantik. Begitu tenang dan terlihat ada beberapa ekor burung. Perahu-perahu dayung nelayan bersandar pulang dari memancing.

Pelabuhan Damu Sambinasi, di sana terdapat pohon Bodi salva yang sangat besar dan menyerupai rusa duduk. Bergeser ke arah timur, terdapat Pelabuhan Mbongras yang dulu pernah dijadikan pelabuhan bongkar muat hewan. Kemudian ada pelabuhan Bajo yang sudah dibangun dengan beton. Pelabuhan Bekek dengan khas pohon kelapa, dimana banyak masyarakat yang mengerjakan kopra. Pelabuhan Watu lajar adalah yang terujung. Terhampar pasir putih yang cantik dan luas.

Suasana yang masih sangat alami....

Di setiap tempat kami berinteraksi dengan masyarakat. Duduk bersama-sama mereka, menangkap pesan dan keluhan mereka, mencatat dan mengambil gambar, mencermati permasalahan yang terjadi dan membaca kondisi nyata di lapangan.

Kami mencoba menikmati kehidupan mereka. Memancing dengan bermalam di bagang apung bersama-sama dengan nelayan. Merasakan nasi jagung dengan bakar ikan hasil pancingan sendiri. Atau duduk memancing di dermaga apung sore hari sambil menikmati sunset dan mengobrol dengan beberapa orang yang asyik memancing juga. Dan mengamati burung-burung terbang. Mengidentifikasi jenis mangrove.

Kami juga mencoba merasakan kehidupan sebagai staf resort. Ikut berkantor dan menikmati tugas, menyelesaikan kasus, berkeliling kawasan laut, mendatangi pulau-pulaunya dan mengidentifikasi potensi yang ada, mengamati perahu nelayan dan wisatawan yang masuk, menangkap pelaku illegal fishing dari  nelayan dari luar kawasan menangkap gurita tanpa ijin dan kelengkapan surat yang jelas..... Sungguh luar biasa!

Kami mencoba menggali potensi wisata; mengamati spot-spot potensial wisata terutama untuk ber-snorkeling dan diving, mendatangi lokasi feeding komodo di Pulau Ontoloe, menikmati tidur di pondok nelayan di Pulau Rutong, ber-snorkeling menyeberang pulau Pata dari Dermaga Wisata, menyatu dengan turis asing di Pulau Tiga, duduk bersama ranger di cafe, dan tentunya mendatangi penginapan mengobrol dan mendengarkan pengalaman mereka.

Kami juga berusaha mencatat koordinat beberapa fasilitas umum seperti pasar, masjid, penginapan dan rumah makan. Tidak lupa, kami menikmati seluruh kawasan TWAL 17 Pulau dari puncak bukit Watu Mitong. Terhampar panorama yang cantik dan tergambar jalur penghijauan yang membentuk ular naga di puncak pulau Ontoloe. Di sore hari pada musim tertentu, langit Riung ini dipenuhi ribuan kelelawar raksasa yang terbang di atas kepala, akan sangat menakjubkan. Kepuasan yang tak terlukiskan menikmati keindahan alam dan bawah lautnya.

Mengikuti rapat tim terpadu dan rombongan Kepala Balai Besar KSDA NTT, berkoordinasi dengan LSM PERISAI (WALHI), merasakan kehidupan bersosialisasi dan berkoordinasi di lapangan merupakan pengalaman lain yang sangat berharga.

Dua minggu yang tak terlupakan dan mendapatkan sejuta informasi; dapat menggali potensi dan kondisi kawasan dan masyarakat sekitar saat ini, mengetahui permasalahan kawasan, memperoleh potret kawasan secara keseluruhan dengan rasa bahagia. Sungguh gambaran yang tidak akan dapat tertuang secara utuh dalam tulisan singkat ini.

Akhirnya, kami berharap semoga dengan catatan kecil ini dapat sedikit tergambar nikmatnya kembali ke lapangan dan indahnya Resort Based Management untuk pengelolaan kawasan secara tepat dan tidak salah kaprah. ***

* PEH Balai Besar KSDA Nusa Tenggara Timur