"pendekatan psiko-socio culture merupakan prasyarat memahami perilaku masyarakat dan membangun kesadaran bersama untuk mengelola kawasan konservasi yang lebih manusiawi"

01 Agustus 2012

Kerangka Kerja Monitoring (Pemantauan) Kegiatan RBM

Oleh: Hendrikus Rani Siga
Kepala Seksi Pengelolaan TN Wilayah I Moni
Balai Taman Nasional Komodo 
 
Sebuah pengelolaan kawasan konservasi yang baik minimal memiliki tiga tahapan atau strategi pengelolaan yaitu : perencanaan, pelaksanaan/pengelolaan dan pemantauan. Aspek pemantauan menjadi sangat strategis karena dapat memberikan umpan balik kepada pihak manajemen untuk mengambil langkah konkrit dan strategis untuk mengatasi permasalahan ataupun dampak yang ditimbulkan.

Seringkali pula dalam suatu rencana pemantauan, indikator dan metode yang dipilih sangat kompleks sehingga menyulitkan dalam pelaksanaannya. Selain itu, pemantauan dan evaluasi dampak/permasalahan yang dihadapi oleh pengelola jarang dilakukan karena besarnya biaya yang dibutuhkan dan anggapan mengenai kecilnya manfaatnya. Padahal hasil pemantauan sangat diperlukan sebagai masukan bagi pengelola dalam menjalankan program mereka agar dapat dilakukan perubahan atau penyesuaian apabila terlihat adanya penurunan kualitas dari sumber daya alam, sarana prasarana pengelolaan maupun terhadap pengalaman yang ditawarkan kepada wisatawan.

Pada umumnya kawasan konservasi terus mengalami tekanan baik yang dilakukan oleh masyarakat, wisatawan maupun oleh pengelola sendiri akibat salah dalam mengambil keputusan ataupun kebijakan. Hal ini mungkin disebabkan karena kurangnya perhatian ataupun pemahaman pengelola bahwa sistim pemantauan yang baik sesungguhnya dapat memberikan umpan balik yang positif dalam rangka perbaikan semua aspek pengelolaan. Mempertahankan kualitas sumberdaya alam juga akan sangat menentukan tingkat keberhasilan pengelolaan sebuah kawasan konservasi. Untuk itu, manajemen kawasan konservasi yang baik sudah seharusnya dapat mengakomodir aspek-aspek pengelolaan pada tingkat yang paling operasional sekalipun.

Metode pemantauan yang baik seharusnya merupakan pemantauan dari waktu ke waktu yang memungkinkan manajemen sebuah kawasan konservasi dapat melakukan pemantauan setiap permasalahan dengan mudah dan dinamis sehingga dapat memberikan peluang kepada pihak pengelola untuk segera mengambil tindakan apabila terindikasi sudah mendekati atau melewati batas-batas toleransi. Namun demikian, harus diakui bahwa sistim pemantauan di kawasan konservasi saat ini pada umumnya belum berjalan sebagaimana mestinya. Hal ini diakibatkan oleh paling tidak dua hal utama yaitu kurangnya alokasi dana untuk kegiatan pemantauan dan belum adanya sistim pemantauan yang lebih sederhana dan sistematis. Dengan demikian, sistim pemantauan yang dibangun seharusnya lebih sederhana, tidak membutuhkan biaya yang tinggi dan dapat dilakukan oleh siapa saja yang memiliki kepedulian dengan sumberdaya alam di kawasan konservasi. Sistim pemantauan sangat diperlukan untuk melakukan penilaian terhadap perubahan karakter lingkungan fisik, lingkungan biologis, lingkungan sosial termasuk didalamnya adalah penilaian terhadap karakter pengalaman wisatawan dari waktu ke waktu. Hasil desain kerangka kerja pemantauan yang baik diharapkan juga dapat menjadi acuan bagi pihak manajemen dalam mengukur setiap perubahan yang terjadi terhadap setiap komponen lingkungan yang dikelolanya serta sesuai dengan spesifikasi dan karakter lokasi yang akan dipantau.

Sistim pemantauan yang akan dirancang ini akan mengindikasikan berbagai permasalahan, rekomendasi, target minimal dan target maksimal yang akan dicapai, bagaimana pemantauan dilakukan, waktu yang tepat untuk melakukan pemantauan, siapa yang akan melakukannya, dimana pemantauan itu dilakukan dan strategi atau langkah apa yang akan diambil oleh pihak pengelola apabila target-target pengelolaan baik dalam skala resort/seksi/balai tidak dapat tercapai. Sistim pemantauan seharusnya sangat spesifik pada tempat dan kegiatannya. Skalanya cukup kecil dan tidak memerlukan tenaga khusus dan biaya yang besar dan memungkinkan pihak manajemen dapat mengambil langkah-langkah konkrit untuk melakukan perubahan atau penyesuaian apabila terlihat adanya penurunan kualitas dari sarana prasarana, sumber daya alam dan kualitas pengalaman yang ditawarkan kepada wisatawan setiap saat diperlukan.

Menindaklanjuti pertemuan informal tentang RBM di kantor Balai Taman Nasional Kelimutu, dimana di pertemuan itu saya berkeinginan untuk memberikan kontribusi pemikiran dan konsep sebagai bentuk dukungan saya terhadap konsep RBM yang saat ini sudah dan sedang berjalan. Concern saya adalah bagaimana monitoring/pemantauan dilakukan terhadap pelaksanaan RBM pada level implementasi dan pada level pengambil kebijakan. Menurut hemat saya, perlu adanya sebuah tool yang dapat digunakan untuk mengukur hasil capaian penerapan RBM pada semua level pengelolaan. Berangkat dari permasalahan dan rekomentasi yang didapatkan oleh teman2 di lapangan (sebagaimana sudah diperlihatkan oleh pak Wiratno dalam presentasinya, dimana ada sejumlah permasalahan yang ditemukan teman2 di BBKSDA NTT 2), mungkin perlu sebuah aplikasi atau sebuah sistem untuk memonitor/memantau dari waktu ke waktu terhadap permasalahan atau rekomendasi itu sudah ditindaklanjuti atau belum ditindaklanjuti. Kalau ingin ditindaklanjuti, mungkin perlu juga dirancang bagaimana rekomendasi itu ditindaklanjuti, kapan ditindaklanjuti, oleh siapa dan dimana ditindaklanjutinya. Sebagai sebuah proses, mungkin kita dapat menentukan target capaian minimal dan target capaian maksimal tindaklanjut terhadap sebuah permasalahan atau rekomendasi.

Sama seperti tugas minimal yang harus dilakukan oleh resort, tindaklanjut dari sebuah permasalahan atau rekomendasi juga seharusnya ada target minimal capaian tindak lanjut yang harus dikerjakan oleh berbagai level pengambil keputusan. Pemantauan terhadap penyelesaian permasalahan atau tindaklanjut dari rekomendasi menjadi sangat penting, krusial dan strategis karena apabila tidak dilakukan akan menghasilkan rasa frustasi terutama dari teman2 di tingkat lapangan. Saya mencoba berurunrembug dengan menyampaikan sebuah konsep untuk memonitor pelaksanaan RBM dari waktu ke waktu. Saya berkeyakinan, bapak pasti sudah punya bentuk dan konsep yang sudah siap untuk diterapkan tapi kebetulan saya belum melihat pada pertemuan kita yang sangat terbatas itu.

Kerangka kerja (framework) pemantauan kegiatan RBM sebagaimana tabel dibawah ini, saya batasi dan saya peruntukan penggunaannya pada pelaksanaan RBM resort2 di Taman Nasional Kelimutu. Namun demikian, tidak tertutup kemungkinan apabila diterapkan di lokasi lain yang karakterisriknya sama dengan karakterisrik Taman Nasional Kelimutu. Mudah2n dapat bermanfaat dan penyempurnaan terhadap kerangka kerja ini menjadi hal yang mutlak dan kiranya bpk berkenan mengoreksi dan mengomentarinya.


Konsep Kerangka Kerja Pemantauan Kegiatan RBM TN. Kelimutu
Catatan    :  Kerangka kerja ini merupakan modifikasi dari kerangka kerja LAC (Limit of Acceptable Change) yang diperkenalkan oleh Rare ketika saya menyusun Dokumen Perencanaan Pariwisata Alam Taman Nasional Komodo pada tahun 2002-2004, sehingga diharapkan dapat disesuaikan dengan kebutuhan RBM.
 
Sedikit penjelasan terhadap tabel diatas:

1.      Permasalahan: setiap persoalan yang ditemukan dan dicatat dalam register
2.    Rekomendasi: setiap rekomendasi yang disampaikan baik yang tertulis dalam register maupun dari diskusi yang berkembang
3.     Indikator Capaian Target Minimal : capaian minimal sebagai solusi atas permasalahan yang ada
4.  Indikator Capaian Target Maksimal: capaian maksimal sebagai solusi akhir atas permasalahan yang ada
5.     Bagaimana: cara atau langkah untuk menyelesaikan permasalahan
6.     Kapan: batas akhir waktu pelaksanaan rekomendasi
7.    Siapa: staf atau pengambil keputusan yang paling relevan dengan permasalahan yang akan diselesaikan
8.    Dimana: lokasi permasalahan atau lokasi proses tindak lanjut dilakukan
9.    Strategi Mitigasi: langkah2 strategis yang harus dijalankan apabila target minimal atau target maksimal tidak dapat dipenuhi
10.  Score: tolok ukur untuk menyatakan resort/seksi/balai pada posisi disclaimer atau WDP atau WTP (meminjam istilah yang sudah dipakai oleh Badan Pemeriksa Keuangan).

Tabel diatas hanya menampilkan sebagian contoh dengan beberapa permasalahan dan rekomendasi yang sempat terlintas dalam pikiran saya. Tentunya akan sangat banyak permasalahan dan rekomendasi yang akan dihasilkan oleh teman2 di resort, dengan harapan akan segera diselesaikan baik oleh pimpinan maupun oleh mereka sendiri. Kerangka kerja ini menurut hemat saya akan memudahkan pengambil keputusan untuk memonitor setiap waktu, setiap langkah dan setiap kebijakan yang telah atau belum dibuat oleh pengambil keputusan atau oleh teman2 resort sendiri.***


Ende, 26 Juli 2012